Forum Pimpinan Daerah (Forfimda) Tulungagung, Jawa Timur, akhirnya resmi menolak keberadaan
Front Pembela Islam (FPI) di daerah tersebut dengan pertimbangan stabilitas keamanan.
Pernyataan
sikap secara terbuka disampaikan bersama seluruh unsur Forpimda yang
dipimpin langsung oleh Bupati Syahri Mulyo bersamaan dengan acara
pemusnahan ribuan barang bukti minuman keras, narkoba, dan jamu ilegal
di halaman Mapolres Tulungagung.
"Setelah berdiskusi dengan
jajaran Forpimda, kami nyatakan tidak mengakui keberadaan FPI di
Tulungagung," tegas Bupati Syahri Mulyo, Jumat (12/12/2014).
Didampingi
Kapolres AKBP Bastoni Purnama, Kajari Dawin Noor, Kepala Pengadilan
Negeri Tulungagung Tajuddin, serta Dandim 0807/Tulungagung Letkol Inf
Gunawan Permadi, Bupati menjelaskan sejumlah pertimbangan keputusan
tersebut.
Salah satu yang menjadi alasan menonjol, terang Syahri,
yakni menganggap keberadaan FPI bisa memicu distabilitas keamanan
sosial di wilayah tersebut.
Terlebih, lanjut dia, sejak
bergulirnya wacana deklarasi FPI ada sejumlah kelompok masyarakat yang
menyatakan sikap penolakan terhadap kehadiran ormas itu.
Pertimbangan
lain yang tak kalah penting adalah dengan mengevaluasi kasus bentrok
dan serangkaian tindak kekerasan di daerah lain oleh FPI sehingga
memantik keresahan masyarakat.
Syahri menambahkan, dari hasil
diskusi Forpimda Tulungagung yang terdiri dari bupati, kapolres, dandim,
ketua PN, ditambah wakil bupati dan sekda, disepakati untuk tidak
mengakui keberadaan FPI di Tulungagung.
Kendati dalam surat
pernyataan tidak lugas menolak keberadaan atau pendirian FPI, Syahri
meyakinkan bahwa keputusan untuk belum mengakui ormas Islam asuhan Habib
Rizieq tersebut bakal berimbas pada legalitas kegiatan mereka di Kota
Marmer.
"Kalau organisasinya belum atau tidak diakui, secara
otomatis kegiatannya juga tidak. Kalau mereka menggelar acara atau apa
pun, pasti ilegal karena perizinan tidak akan pernah dikeluarkan," tegas
dia.
Sementara itu, Ketua FPI Tulungagung Nurkholis mengaku
tidak gentar dengan adanya keputusan oleh pemerintah daerah setempat.
Menurut dia, FPI tidak akan berpengaruh dengan keputusan itu karena
ormas yang dipimpinnya merupakan organisasi resmi.
"Kami tetap akan berjalan seperti organisasi pada umumnya," jawabnya.
Nurkholis
menambahkan bahwa FPI akan terus melakukan perekrutan terhadap anggota
baru. "Hingga saat ini, perekrutan masih dilakukan secara tertutup. Kami
berjuang menegakkan amar makruf nahi munkar," tegas salah satu tokoh NU
Tulungagung itu.